Mengintip Agenda dan Pembicara Hebat di Sekolah Muhadditsin Season 5
Halo Guys!
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, Sekolah Muhadditsin Season 5 di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung kembali menghadirkan sesi yang tak kalah spesial. Setelah membahas seputar fiqh dan ushul hadis, kali ini panggung kita naik ke level yang lebih dalam yaitu membongkar krisis moralitas dengan pisau analisis ma'ani al-hadis dan feminisme.
Acara inti yang dinantikan adalah Talkshow interaktif bersama dua narasumber yang kompeten di bidangnya. Berikut profil singkat mereka:
· Pemateri Utama: Dr.(H.C.) KH. Husein Muhammad atau yang akrab disapa Buya Husein. Beliau adalah Mustasyar PBNU dan Founder Yayasan Fahmina. Sejak 1986 hingga kini (2025), dedikasinya dalam memperjuangkan kesejahteraan gender melalui lensa Islam yang ramah dan berkeadilan telah melahirkan banyak karya monumental. Pemikirannya menjadi rujukan penting dalam diskursus Islam dan feminisme di Indonesia.
· Moderator: Dr. Rifqi As'adah Al-Laily, S.Ud., M.Ag. Seorang akademisi dan selaku dosen di UIN Tulungagung yang mumpuni, yang akan memandu jalannya diskusi dengan apik dan mendalam.
Acara dibuka dengan sambutan-sambutan dari pihak universitas dan panitia yang menyampaikan rasa syukur dan harapan besar terhadap gelaran seminar ini. Namun, bumbu utamanya tentu saja pada sesi talkshow antara Bu Rifqi dan Buya Husein.
Talkshow kali ini mengangkat tema besar: "Reinterpretasi Krisis Moralitas melalui Ma'ani al-Hadis Berperspektif Feminisme".
Pembahasan berjalan sangat cair dan menukik. Buya Husein, dengan kearifannya, membawa kita untuk tidak sekadar membaca teks hadis secara harfiah, tetapi menyelami ma'na-nya (makna mendalam) dan konteks sosial di baliknya.
Salah satu titik fokus yang menggelitik adalah pembahasan tentang relasi suami-istri.
Buya Husein dengan gamblang menjelaskan bahwa banyak hadis tentang istri yang sering kali dipahami secara parsial dan justru menimbulkan ketimpangan. Beliau mengajak audiens untuk melakukan reinterpretasi.
· Dari Kewajiban Menuju Kemitraan: Pemahaman bahwa istri "hanya" berkewajiban melayani suami dibongkar ulang. Melalui pendekatan ma'ani al-hadis, Buya menekankan bahwa relasi suami-istri adalah kemitraan (mu'asyarah bil ma'ruf) yang dibangun atas dasar cinta, kasih sayang (mawaddah wa rahmah), dan musyawarah.
· Melihat Konteks, Bukan Hanya Teks: Banyak teks hadis yang seolah menempatkan istri pada posisi subordinat, harus dilihat dalam bingkai sosiologis masyarakat Arab saat itu. Esensi yang ingin dibangun oleh Islam adalah perbaikan bertahap menuju tatanan yang lebih adil. Inilah yang coba diangkat dengan perspektif feminisme sebuah perspektif yang mempertanyakan dan merekonstruksi untuk mencapai keadilan substantif.
· Krisis Moral dan Ketimpangan Gender: Buya Husein menghubungkan krisis moralitas modern dengan runtuhnya nilai-nilai keadilan dalam keluarga. Ketika relasi dalam rumah tangga sendiri timpang, maka itu akan melahirkan generasi yang mungkin juga abai terhadap nilai keadilan di ruang publik. Mereinterpretasi hadis tentang istri dengan pandangan yang adil adalah langkah awal memperbaiki moralitas yang lebih luas.
Dr. Rifqi As'adah sebagai moderator sukses menggali lebih dalam pemikiran Buya Husein dengan pertanyaan-pertanyaan kritis namun tetap santun, membuat diskusi terasa hidup dan mudah dicerna.
Talkshow ini bukan sekadar transfer ilmu, tapi lebih seperti "tamparan" lembut yang menyadarkan kita. Bahwa krisis moralitas yang kita hadapi sering berakar dari kesalahan kita dalam memaknai teks-teks agama. Karya Buya Husein dari 1986 hingga 2025 adalah bukti konsistensinya dalam membangun narasi keislaman yang inklusif dan berkeadilan. Melalui Sekolah Muhadditsin Season 5 ini, semangat itu diteruskan kepada generasi muda, untuk melahirkan muhaddits (pengkaji hadis) masa depan yang tidak hanya paham teks, tetapi juga peka terhadap konteks dan berjiwa feminis dalam arti pejuang keadilan untuk semua.
#SekolahMuhadditsin #Season5 #UINSayyidAliRahmatullah #BuyaHusein #MaaniAlHadis #FeminismeIslam
Komentar
Posting Komentar